Jangan berusaha jadi orang baik, karena kebaikan itu akan terpancar dari dirimu sendiri, pada waktunya…
Jangan berusaha jadi orang baik. Ya…mungkin kalimat ini agak aneh untuk didengar. Disaat semua pihak lagi beramai-ramai mengedepankan konsep berbuat baik, berpikir baik, dan segala sesuatu yang baik, tiba-tiba aku berpikir untuk tidak berusaha jadi orang baik.
Tenang…yang aku maksud jangan berusaha jadi orang baik disini bukannya kita harus berbuat hal jahat atau merugikan orang lain. Tapi lebih ke arah refleksi diri agar kita menjadi diri sendiri, bukan orang yang hidup dalam kepura-puraan atau topeng orang lain.
Jangan berusaha (=berpura-pura) menjadi orang baik. Itulah yang aku maksudkan disini. Mungkin banyak dari kita yang pernah berada di posisi ini. Berusaha untuk menyenangkan orang lain, mengedepankan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri, hanya untuk dianggap baik. Kita ingin membuat orang lain bahagia, dengan kepercayaan semu bahwa saat orang itu bahagia kita juga bahagia. Percayalah kawan, itu bukan kenyataan.
Aku sendiri secara pribadi menghabiskan seluruh hidupku (meskipun baru 22 tahun) untuk berusaha jadi orang baik. Selalu berbuat baik dan menyenangkan orang lain, dengan harapan aku dapat merasakan kebahagiaan jika aku telah berbuat sesuatu untuk orang lain. Tapi apa yang aku rasakan, justru kosong, justru lelah yang berkepanjangan, justru sakit hati…
Kenapa??? Karena aku berusaha terlalu keras. Karena aku sudah tidak menjadi diriku lagi. Karena aku terlalu mengorbankan diri hanya untuk memperoleh pengakuan “Wah, si … itu orangnya baik ya!”. Tindakan yang berlebihan ini justru membuatku menjadi capek dan mengharapkan lebih.
Apakah kalian menyadari, semakin kita berusaha terlalu keras, semakin kita mengharapkan sesuatu yang lebih. Hal yang sama terjadi padaku. Saat aku berusaha berbuat baik terlalu keras, aku pun jadi egois, jadi sombong, jadi mengharapkan imbalan terlalu besar. Akhirnya itu menjadi suatu yang tidak baik, bukan?
Nah, saat aku merasa sudah capek, sudah lelah, tiba-tiba aku tersadar, “Aku sudah berlebihan”. Aku sudah berusaha terlalu keras. Aku sudah menghilangkan esensi diriku. Dan itu semua untuk mencapai pengakuan yang mungkin bukan diriku yang sebenarnya.
Kebetulan aku juga baru membaca tulisan di salah satu blog temanku. Disana dia menulis artikel tentang “Sesuai Porsinya (Secukupnya)”. Saat membaca itu tiba-tiba aku semakin menyadari bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu adalah tidak baik, jika kita tidak ingin menyebutnya salah. Sebaik-baiknya suatu hal, akan menjadi tidak baik jika dilakukan secara berlebihan. Bahkan bunga pun bisa layu jika terlalu banyak diberi air dan pupuk.
Satu hal pasti, “Jadilah dirimu sendiri!”. Klise memang, tapi itu memang hal terbaik yang bisa dilakukan oleh manusia. Katakan capek, jika memang capek. Kita nggak harus mengantar teman berbelanja di mall setelah semalaman sibuk mengerjakan tugas. Bukan kejahatan hanya karena kita mengakui perasaan kita yang sebenarnya dan tidak mengikuti kemauan orang lain.
Tetap lakukan yang terbaik, tetapi jangan terlalu keras. Beri waktu diri sendiri untuk berhenti dan beristirahat. Coba sesekali menengok kebelakang untuk melihat masa lalu. Dan refleksikan diri sendiri berdasarkan tindakan-tindakan yang sudah dilakukan. Jangan membuat pandangan orang lain jadi tujuan hidup kita. Dirimu adalah dirimu, dan itu akan terefleksi dari segala tindak tandukmu sehari-hari. Jangan berusaha berbuat baik, berbuatlah sesuai kata hatimu. Karena pada akhirnya kebaikan itu akan terpancar sendiri dalam kehidupanmu. Pada saat yang tepat…